Pondok BAMBOE moeLoeng apakah cocok dengan tema “wisata kuliner rakyat jelata..?”
Posted by A+ on Juni 2nd, 2008
Untuk mendapatkan tema tulisan “WISATA KULINER RAKYAT JELATA†, agar bisa mengikuti lomba yang diselenggarakan kawan yang selalu “berpikir merdeka†ini , aku sengaja cari informasi sasaran empuk mana saja yang nantinya bisa aku kunjungi dan paling tidak aku bisa dapatkan untuk bahan liputan.Pesan dari mulut ke mulut dan juga sms sudah aku sebar ke beberapa kawan yang aku kenal.
Target pertama yang aku kunjungi adalah Pondok BAMBOE moeLoeng . Terletak di Jl.Raya Merakurak-Tuban Km.3 , kalau menurutku ini tergolong bukan tempat yang cocok buat wisata kulinernya rakyat jelata , sebab tempatnya yang di tata rapi, sebagian besar pondoknya terbuat dari bambu , memiliki kesan yang cocok untuk mampirnya orang-orang berduit, apalagi letaknya yang pinggir jalan sangat cocok untuk yang pingin singgah setelah perjalanan jauh .Wah…aku bakalan gagal dong cari liputannya? Itu yang aku pikirkan setelah tahu tempatnya. Lalu apa sih yang membuatku penasaran ? Yang membuatku penasaran adalah karena Podok Bamboe moeLoeng ini menyediakan menu ikan wader.
Kami bertiga (rencananya berempat tapi teman yang satu lagi belum tiba) sengaja pilih pondok yang paling belakang , agar sekalian bisa melihat pemandangan sawah yang nun jauh di arah selatan ada bukit-bukit.Udara yang segar dan asri juga bisa kita hirup dengan sepuasnya di sini.
Beberapa menu yang di tawarkan pondok Banboe Moloeng diantaranya ada ikan wader goreng , belut goreng/ulas-ulas , pecel lele , tempe penyet / bakar dan lain-lain.Nah , cuman yang jadi masalah adalah harganya memang benar- benar tidak sesuai dengan yang di syaratkan dalam lomba “WISATA KULINER RAKYAT JELATAâ€.

Yang jelas , kalau kita mau makan komplit , misalnya menu ikan wadernya , atau pecel lelenya di tambah dengan minumannya anda harus siapkan uang lebih dari 7500. Kalau kocek anda pas 7500 , yang akan anda dapatkan adalah hanya menu tempe penyet+bakar dan minumnya air Aq** . Mahal nggak ya…?
Itu artinya sumber liputan untuk lomba yang pingin aku ikuti sudah tidak memenuhi syarat, tetapi penasaran dengan menu ikan wadernya membuat aku kepingin nyobain. Aku mulai mencari tahu , ada tidak sesuatu yang unik dari Pondok ini…?Sedikit basa basi dengan pelayan warung ,sengaja aku bertanya dari mana ikan wader ini di dapat ? Aku berharap jawabannya adalah di dapat dari kali/sungai , dan menangkapnya dengan menjaring sendiri, dan sebainya-sebagainya.Ternyata tidak demikian, ikan wadernya ternyata di dapat dengan membeli dari pasar.Walah……..padahal kalau misalkan ikan wadernya di dapat dari kali/sungai , mungkin aku bisa dapatkan keunikan pondok itu dari sini. Karena menurutku tidak ada hal yang perlu aku kejar dan aku pingin tahu dari podok ini , setelah menu yang kami pesan siap kita langsung memulai acara makannya .Ternyata juga rasanya tidak begitu ada yang istimewa , apakah cara pengolahannya yang kurang pas atau bagaimana , saya kurang tahu persis.
Tetapi semilir angin dari persawahan itu rupanya yang bikin kita betah , apalagi setelah perut kenyang tiba2 kepala jadi berat dan ngantuk…..halah…dasar penyakit orang kenyang…Kebetulan pondok yang kami pilih cukup luas dengan hanya kami berempat yang menempati , membuat aku bisa rebahan dan tiduran.Dan jangan salah , ternyata ada tukang pijat gratisnya juga lo …penasaran nggak…?hehehehehehehe.
Untuk mendapatkan pelayanan pijat gratis ternyata syaratnya cukup mudah , kita cukup bertanya ke kawan yang duduk di sebelah kita begini “ Prend , kamu nganggur kan..? Tolong pijitin dong , ntar gantian “.Nah, di jamin fasilitas pijat gratis ini pasti anda dapatkan.Buktinya lihat photo di bawah ini.

Posting-ku ini sebenarnya tidak pingin aku ikutkan dalam lomba , tetapi sengaja aku ikutkan , paling tidak ada usaha untuk bikin liputan “wisata Kuliner Rakyat Jelata “ , dan paling tidak jika aku tidak mendapatkan liputan lagi pada hari-hari berikutnya , ini bisa mewakili.Tentunya dengan sangat memaksa…..kenapa?karena sudah tidak memenuhi syarat untuk di lombakan, hehehehe. Kecuali ada kebijakan lain dari penyelenggara, (maunya sih gitu…)tetapi bukan kebijakan kolusi dan manipulasi yang aku harapkan.“Aku tidak mau jadi blogger yang nggak jujur”.
Dan aku pikir juga tidak ada ruginya , dari ketentuan lomba disebutkan bahwa posting yang akan dinilai adalah posting atau liputan terakhir yang di ikutkan lomba.
Itu berarti kita bisa buat liputan yang banyak kan…?atau ada aturan yang lain yang mungkin aku belum ketahui …?Mohon pencerahan lagi dari “dewan pakarâ€.
Juni 2nd, 2008 at 3:09 pm
hmmmm…. sayang dewan pakarnya gak bisa ikutan… jangan lupa diterakbebek di pengumuman lomba itu dan kirim imel ya….
silahkan bikin banyak tulisan, yang dinilai adalah tulisan terakhir…
Juni 6th, 2008 at 9:56 am
woh..
wader goreng..
*ngelap iler*
Maret 12th, 2009 at 5:10 pm
Ini dia yang gue tunggu, nice artikel